Sabtu, 14 Februari 2015

Engkau lebih lama mengenal cangkir dan percakapan

Dalam pandanganmu yang bertahun-tahun lebih sering menelan peristiwa, dari nama-nama jalan dan jidat-jidat yang dihitamkan karna sebagian pelangi yang diaduk bersama secangkir kopi bercandaan, seiring aku dan engkau yang meramu percakapan di atas meja kewibawaan dan ilmu yang disucikan sebelum baju dan celana habis ditanggalkan, lalu diganti dengan do'a-do'a yang penuh mengubur sesak hangat liang.

Selasa, 27 Januari 2015

Yang merah pecah

Bahkan pada pandanganmu yang menggetih,
aku pernah menghunuskan perumpamaan paling tajam serupa sepuhan para tetua empu, kau tak pandai merayu pada sebatang dahan yang pancangnya menegakkan tiap tirai jendela kamar hatimu, aku yang pandai meloncat-loncat diantara ranting peraduan, engkau tak pernah pintar melurik selendang peras awan yang setaumu hanya abu dan jidat biru muda mengkilap, walau sebetulnya tiap puntung do'amu selalu saja tentang jalan setapak yang dilukis sandal merah pecah kita, dan selalu kutampikkan di pangkal pahit lidah, "maaf"

Kamis, 22 Januari 2015

"Kita hanya diberi cara belajar memilih dan memutuskan, mana yang pantas didapat atau yang ikhlas dilepaskan, dimana waktu adalah tempat satu-persatu masalah akan diselesaikan, karena Allah yang maha mengatur segala waktu dan keteraturan yang meliputi proses pendewasaan hamba-hamba-Nya"

Rabu, 17 Desember 2014



Tuhan tau betul berbuku rapalan do'a manusia,
ia terbait rapi pada secarik pengaduan,
dimana ikhlas dan sabar yang melapang akan dengan rajin diujikan dalam peristiwa,
pula dengan kufur yang khusyuk memelihara nikmat.
Segalanya akan dipasangkan pada nilai yang menentukan dimana pembalasan rapi ditangkupkan untuk masing-masing perbuatan.

Selasa, 16 Desember 2014





Rindu malam-malam keluarga kami yang bermukim pada beberapa cangkir teh dan setampah pembicaraan,
kegiatan kami sehari-hari hanya menampung sisa-sisa pelangi yang sudah tak diperlukan lagi oleh hujan yang lalu kami banjarkan di dalam sudut pintu-pintu mata kami yang hampir penuh dengan do'a berkitab-kitab,
aku hanya berguru dari sepasang kekasih paruh baya yang dalam dada mereka tumbuh lumbung-lumbung perhatian yang siap dituai tanpa menunggu musim panen tiba,
mereka hanya rajin menanam benih seperti yang lain lalu berharap Tuhan yang menumbuhkan tanpa lekas basi ditelan musim.

Jumat, 05 Desember 2014



Sejak kecil saya selalu kepengin sepatu yang menyala kelap-kelip di tumit yang membuat jari-jari kaki manja menjinjit,
saya selalu kepengin lagi menjadi anak-anak yang selalu cerdas membunuh perasaan bosan hanya dengan menyibukkan diri dengan hujan atau pura-pura merengek minta semangkuk bubur kacang.
Kata mak saya nanti kamu pasti punya yang kelap-kelip itu, dengan tumit kami yang jinjit bersamaan.

Kamis, 27 November 2014

Ibu


"Engkau masih terus sibuk merapikan kamar kami, tapi tidak dengan senyum yang berserakan sampai ke kolong-kolong.
Bu, barangkali untukmu aku sedang menggambar lengkung bibir pada selembar kerinduan"